Daerah
Home » Berita » Kisah Pilu PMI Majalengka di Mesir: Diduga Jadi Korban Pembunuhan Suami, Keluarga Menangis Minta Kepastian

Kisah Pilu PMI Majalengka di Mesir: Diduga Jadi Korban Pembunuhan Suami, Keluarga Menangis Minta Kepastian

MAJALENGKA — Sebuah kabar memilukan datang dari Mesir. Yayah Komariah, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Majalengka, diduga menjadi korban pembunuhan oleh suaminya sendiri. Keluarga yang berada di Tanah Air kini hanya bisa berharap negara segera turun tangan untuk mengungkap kebenaran dan memulangkan jenazah.

Peristiwa tragis ini terungkap setelah keluarga mendapatkan telepon dari seorang aktivis pada Kamis, 4 Desember 2025. Dalam kabar tersebut, disebutkan bahwa Yayah meninggal secara tidak wajar. KBRI Mesir kemudian memberikan konfirmasi awal bahwa penyebab kematian diduga kuat akibat tindak kekerasan.

Dugaan Kekerasan Rumah Tangga yang Berujung Maut

Informasi dari pihak keluarga menyebutkan bahwa Yayah kerap terlibat pertengkaran dengan suaminya selama tinggal di Mesir. Ketegangan tersebut diduga memuncak hingga terjadi penganiayaan. Meski sempat dibawa ke rumah sakit, nyawa Yayah tidak dapat diselamatkan.

Di media sosial sempat beredar narasi mengenai kondisi jenazah Yayah yang disebut mengalami luka serius. Namun pihak keluarga memilih untuk tidak berspekulasi dan menunggu pernyataan resmi dari otoritas Mesir dan KBRI.

Sambut Lonjakan Mudik 2026, Majalengka Genjot Perbaikan 117 Km Jalan di 30 Titik

Harapan Keluarga: Negara Hadir dan Jenazah Dipulangkan

Keluarga Yayah kini berada dalam kondisi terpukul. Sri, salah satu anggota keluarga, meminta pemerintah Indonesia membantu penuh proses pengurusan jenazah dan memastikan pelaku mendapat hukuman yang setimpal.

“Kami hanya ingin jenazah Yayah segera kembali ke rumah. Kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ucapnya terisak.

Merantau Tanpa Jalur Resmi dan Hilang Kontak Bertahun-tahun

Yayah diketahui pertama kali berangkat ke Mesir pada tahun 2008. Setelah pulang, ia kembali lagi pada 2019. Pada keberangkatan awal, komunikasi dengan keluarga masih berjalan lancar. Namun setelah menikah di Mesir, kontak tersebut terputus total hingga belasan tahun.

Ratusan Kios Kosong di Pasar Cigasong Majalengka, Disperdagin Targetkan Aktivasi Total

Kepala Desa Tegalsari mengungkapkan bahwa keberangkatan Yayah ke Mesir tidak menggunakan jalur resmi. Hal ini menambah panjang daftar persoalan PMI non-prosedural yang tidak terlindungi secara hukum saat menghadapi masalah di luar negeri.

Tuntutan Keadilan dan Perlindungan Pekerja Migran

Pihak desa bersama keluarga mendesak pemerintah untuk bertindak cepat. Mereka meminta pemulangan jenazah segera diproses dan kasus kematian Yayah ditangani secara transparan oleh aparat hukum Mesir.

Tragedi ini menjadi pengingat keras mengenai pentingnya perlindungan menyeluruh bagi pekerja migran Indonesia. Kasus Yayah Komariah menambah daftar panjang risiko yang harus dihadapi PMI, terutama yang bekerja tanpa prosedur resmi.

Genteng Jatiwangi Jadi Pilar Program Gentengisasi, Majalengka Siap Pasok Proyek Perumahan Rakyat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *